Sinar Matahari Sebagai Vitamin. Berjemur Matahari Pagi atau Siang?

Berjemur sinar matahari pagi merupakan kebiasaan yang telah dijalankan sejak jaman dahulu.
Bayi, anak-anak, dewasa, maupun orang-orang tua seringkali bermandi matahari pagi untuk menjaga kesehatan.

Sinar matahari dibutuhkan agar kulit dapat membuat vitamin D.
Selain melalui sinar matahari, kita bisa memperoleh vitamin D melalui makanan seperti kuning telur, ikan (salmon, tuna, teri, sarden), jamur, daging, dll.
Bila diperlukan, suplementasi vitamin D dapat dikonsumsi sesuai dengan anjuran dokter.

Vitamin D adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam lemak.
Selain dapat membuat sendiri, tubuh kita juga mampu menyimpan vitamin D dalam jaringan lemak.


Vitamin D berguna untuk :

  • membantu mengatur penyerapan kalsium dan fosfor untuk kesehatan tulang dan gigi
  • membantu pengaturan sistem kekebalan tubuh
  • membantu pengaturan sistem saraf, otot, dan otak
  • membantu fungsi paru dan jantung
  • mengatur insulin


Asupan vitamin D dipengaruhi oleh gaya hidup, kebiasaan, agama, dan nutrisi.

Walaupun kita berada di daerah khatulistiwa dengan sinar matahari melimpah, banyak sekali ditemukan orang yang mengalami kekurangan vitamin D.
Ini bagaikan pepatah ayam mati di lumbung padi.
Banyak alasan yang dapat menjelaskan hal tersebut.

Adanya anggapan yang mengaitkan kecantikan dengan warna kulit yang putih membuat banyak wanita terutama wanita muda yang sengaja menghindari sinar matahari.

Pekerjaan juga dapat membuat orang kehilangan kesempatan untuk berjemur, misalnya pekerja kantoran yang harus berangkat dini hari (karena jarak dan kemacetan) dan pulang malam hari.


Orang-orang yang mengalami peningkatan risiko kekurangan vitamin D adalah :

  • tinggal jauh dari khatulistiwa
  • memiliki kebiasaan makan yang buruk
  • lanjut usia
  • bayi yang lahir dari ibu yang mengalami kekurangan vitamin D
  • kurang mendapat paparan sinar matahari, misalnya karena banyak berada dalam rumah atau gedung atau karena kebiasaan menghindari sinar matahari.
  • kebiasaan menggunakan pakaian yang menutupi hampir seluruh tubuh (baik karena agama seperti pada wanita Muslim, biarawati Katolik, dll, adat istiadat, atau seragam dalam bekerja atau sekolah, maupun karena selera berpakaian)
  • memiliki warna kulit yang gelap
  • kegemukan atau kelebihan berat badan


Sinar matahari dibutuhkan agar kulit dapat membuat vitamin D.

Walaupun kita berada di daerah khatulistiwa dengan sinar matahari melimpah, banyak sekali ditemukan orang yang mengalami kekurangan vitamin D.


BACA JUGA


TONTON JUGA


Dengan merebaknya berbagai penyakit seperti COVID-19, demam berdarah dengue, demam tifoid, influenza, dan sebagainya, masyarakat mulai kembali membiasakan diri untuk berjemur.

Dengan adanya berbagai penelitian, dipercaya sinar matahari di siang hari lebih baik dalam membantu kulit membentuk vitamin D.

Sinar matahari mengandung ultraviolet yang dibedakan menjadi UV A dan UV B.
Sinar matahari di pagi hari dan sore hari lebih banyak terdiri dari UV A daripada UV B.
Sinar UV A tidak berguna dalam pembentukan vitamin D.
Sinar UV B yang berperan dalam pembentukan vitamin D akan memuncak intensitasnya pada siang hari.

Dengan adanya berbagai penelitian, dipercaya sinar matahari di siang hari lebih baik dalam membantu kulit membentuk vitamin D. Sinar UV B yang berperan dalam pembentukan vitamin D akan memuncak intensitasnya pada siang hari.
Dengan adanya berbagai penelitian, dipercaya sinar matahari di siang hari lebih baik dalam membantu kulit membentuk vitamin D. Sinar UV B yang berperan dalam pembentukan vitamin D akan memuncak intensitasnya pada siang hari.


Tips berjemur matahari agar optimal dan aman :

  1. Pilih sinar matahari siang hari antara pukul 10 sampai pukul 15.
  2. Berjemur di bawah sinar matahari langsung.
    Sinar UV B tidak dapat menembus kaca jendela rumah, kaca jendela kendaraan, awan, atau gedung (tidak ada dalam bayang-bayang).
  3. Pada umumnya, berjemur dipercaya cukup memadai selama sekitar 5 sampai 30 menit, seminggu 2 kali dengan paparan sinar matahari langsung (tanpa tertutup pakaian) yang mengenai lengan dan tungkai bawah.
  4. Semakin banyak area kulit yang terpapar sinar matahari, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk berjemur.
  5. Semakin gelap warna kulit, semakin lama waktu yang dibutuhkan karena pigmen kulit mengurangi penetrasi sinar ultraviolet.
  6. Kenakan topi, kacamata anti UV, dan tabir surya hanya untuk daerah wajah.
  7. Menambah asupan cairan ketika berjemur agar terhindar dari dehidrasi.


Seruan berjemur dalam salah satu upaya pencegahan penyakit COVID-19 seringkali akan menjadi pisau bermata dua jika tidak dilengkapi dengan edukasi yang memadai.

Berjemur secukupnya memang dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang akan membantu tubuh menangkal virus SARS-Cov-2 penyebab COVID-19.
Tetapi berjemur secara berlebihan tidak dapat meningkatkan manfaat tersebut.


Alih-alih menyehatkan tubuh, paparan sinar matahari secara berlebihan dan kronis dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti :

  • kulit memerah dan terbakar
  • sengatan panas (heat stroke)
  • dehidrasi
  • gangguan pada mata seperti katarak, kanker mata
  • penuaan dini pada kulit dan perubahan warna kulit
  • kanker kulit


Tidak selalu sesuatu yang baik akan menjadi lebih baik ketika kita meningkatkan jumlahnya.

Bijaklah dalam bertindak.

Kenakan pengetahuan sebagai senjata untuk memilah dan memilih informasi yang bertebaran.


• Sehat itu mudah • Sehat itu murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit:, unsplash jan-kaluza & jake-young. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply