Gagal Terus dengan Resolusi Hidup Sehat?

Akhir tahun sering dilalui dengan membuat resolusi untuk tahun yang akan datang.
Awal tahun dianggap sebagai momen yang tepat untuk memulai hidup yang baru yang tentunya diharapkan akan menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih positif.

Sayangnya, berdasarkan berbagai studi, hampir 80% resolusi yang dibuat gagal dicapai.

Untuk memperkecil kemungkinan gagal, maka sebuah resolusi harus memenuhi berbagai syarat.

πŸ‘€ Find β€˜the why’ and you will find β€˜the how’

Selalu cari alasan di balik berbagai resolusi.

Alasan yang kuat yang memotivasi sebuah resolusi akan menuntun kita ke cara yang tepat untuk mewujudkannya.

Jika motivasi kurang kuat, maka kita akan selalu dapat menemukan pembenaran jika kita mangkir.
Misalnya, resolusi menurunkan berat badan. Jika alasannya kuat, contohnya, berat badan sudah mencapai taraf mengancam kehidupan, atau misalnya akan menikah 3 bulan lagi sehingga harus menurunkan berat badan agar dapat mengenakan gaun pernikahan, maka sangat besar kemungkinan orang akan mencari cara dan menjalankannya sampai resolusi ini berhasil.

Tetapi jika alasan menurunkan berat badan kurang kuat dan jika tidak turun juga tidak apa-apa, maka kita akan sering β€˜nakal’ dan selalu mendapatkan pembenaran diri.
Misalnya makan berlebihan saat ke pesta, maka dengan mudahnya akan membenarkan diri dengan mengatakan, hanya sekali-kali saja, mumpung banyak makanan enak, dan sebagainya.


πŸ‘€ Think big, act small

Bermimpilah yang besar tetapi pecah kecil-kecil mimpi tersebut agar dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya ingin menurunkan berat badan 25 kg.
Maka pecah menjadi turun 2 kg dalam 1 bulan atau 0.5 kg dalam 1 minggu.
Dengan demikian, setiap hari kita dapat membatasi asupan kalori dan memperbesar pemakaian kalori agar tercapai penurunan 0,5 kg per minggu.


πŸ‘€ Publish your wish

Publikasi seringkali menjadi pisau bermata dua.
Jika kita bijaksana, publikasi resolusi kita (misalnya di media sosial) akan membuat kita lebih terpacu untuk mewujudkannya dan diharapkan pasangan hidup, sanak keluarga, rekan-rekan akan memberikan dukungan.


πŸ‘€ Choose achievable ones

Bermimpi besar diperbolehkan, tetapi pilihlah dan yakini bahwa mimpi besar tersebut memungkinkan untuk dicapai dengan kemampuan diri sendiri.


BACA JUGA:

Awal tahun dianggap sebagai momen yang tepat untuk memulai hidup yang baru yang tentunya diharapkan akan menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih positif.

Sayangnya, berdasarkan berbagai studi, hampir 80% resolusi yang dibuat gagal dicapai.


Untuk memperkecil kemungkinan gagal, maka sebuah resolusi harus memenuhi berbagai syarat.

dr santi
Bermimpilah yang besar tetapi pecah kecil-kecil mimpi tersebut agar dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Kenali kemampuan diri dan sesuaikan resolusi dengan kemampuan diri.
Bermimpilah yang besar tetapi pecah kecil-kecil mimpi tersebut agar dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Kenali kemampuan diri dan sesuaikan resolusi dengan kemampuan diri.
SonoraID #SonoraFM92 #SonoraNetwork
Cara Buat Resolusi Kesehatan di Tahun Baru jadi Kenyataan | Kamusehat
πŸ‘€ Adjust your capabilities

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Kenali kemampuan diri dan sesuaikan resolusi dengan kemampuan diri.
Misalnya, jika ingin menurunkan berat badan, ada orang yang mampu secara total menghindari berbagai makanan berkalori tinggi dan mau secara rutin olahraga, tetapi tidak semua orang punya kemampuan seperti itu.
Jika tidak mampu, lakukan secara bertahap. Tidak dapat berlari, tidak apa-apa, tetapi bergeraklah maju selangkah.

Satu langkah maju lebih baik daripada hanya diam di tempat.


πŸ‘€ Make it measurable.

Indikator objektif sangat krusial agar kita dapat menentukan keberhasilan sebuah resolusi.
Misalnya, jangan hanya mengatakan saya ingin menurunkan berat badan, tetapi katakan saya ingin menurunkan berat badan 20 kg atau sampai lingkar perut turun 20 cm.


πŸ‘€ Give time limit

Sebuah resolusi akan lebih baik jika diikat dengan tenggat waktu.
Misalnya, dalam 1 tahun akan menurunkan berat badan sebanyak 25 kg, maka setiap minggu akan menurunkan berat 0,5 kg.

Tenggat waktu mempermudah kita menilai keberhasilan (atau kegagalan) sehingga dapat membuat rencana yang lebih baik.


πŸ‘€ Always evaluate and plan.

Evaluasi harus selalu dilakukan baik dalam jangka waktu yang singkat (misalnya setiap minggu) dan jangka waktu yang lebih panjang (misalnya setiap 3 bulan).

Jika ada gagal capai, evaluasi mengapa kegagalan terjadi dan buat rencana baru.


πŸ‘€ Celebrate every little success

Merayakan keberhasilan membuat kita lebih termotivasi untuk meraih sukses berikutnya.
Perlu diperhatikan bahwa bentuk perayaan harus sejalan dengan resolusi.
Misalnya telah berhasil menurunkan 2 kg berat badan selama 1 bulan, maka hadiah untuk diri sendiri jangan berbentuk kue tart yang tentunya akan mengacaukan resolusi penurunan berat badan.
Pilih bentuk lain misalnya membeli peralatan untuk memasak sehat, perlengkapan olahraga, menonton konser, dan sebagainya.


πŸ‘€ Commitment and consistent

Dua kata ini sangat perlu ditanamkan.
Keberhasilan resolusi berakar pada komitmen dan konsisten melakukan hal-hal kecil setiap saat.

Jika ternyata ada tindakan yang melenceng dari tujuan, janganlah menghukum diri, anggap sebagai sebuah kegagalan, evaluasi, buat rencana baru, dan eksekusi.

Lakukan terus menerus.

Selamat tahun baru!


β€’ Sehat itu Mudah β€’
β€’ Sehat itu Murah β€’

(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com tries to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Gerd Altmann & USA-Reiseblogger. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply