Hasil Laboratorium Swab PCR Positif. Tidak Perlu Panik!

Tidak perlu panik ketika hasil laboratorium swab PCR menunjukkan hasil positif.
Kepanikan tidak menyelesaikan masalah.
Sebagian besar kasus COVID-19 adalah kasus tanpa gejala atau hanya gejala ringan saja.

Penderita COVID-19 dengan gejala ringan atau tanpa gejala dapat menjalani perawatan dan isolasi mandiri di rumah asalkan mampu menjalankan prosedur isolasi dengan disiplin.

Penderita COVID-19 tanpa gejala harus menjalani isolasi (di fasilitas kesehatan/publik yang disediakan pemerintah atau secara mandiri di rumah atau tempat tertentu) selama 10 hari terhitung sejak pengambilan swab PCR yang hasilnya konfirmasi positif.
Isolasi yang dilakukan secara mandiri disebut juga sebagai isoman.
Pemantauan akan dilakukan oleh petugas Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas misalnya).
Setelah 10 hari, kontrol ke fasilitas kesehatan diperlukan untuk pemantauan kesehatan.

Penderita COVID-19 dengan gejala ringan harus menjalani isolasi (di fasilitas kesehatan/publik yang disediakan pemerintah atau secara mandiri di rumah atau tempat tertentu) selama minimal 10 hari terhitung sejak gejala muncul ditambah 3 hari bebas gejala.
Misalnya jika menderita gejala, misalnya batuk selama 4 hari maka isolasi dijalankan selama 10 hari. Jika menderita gejala selama 15 hari, maka isolasi selama 15 hari ditambah 3 hari = 18 hari.


Bagaimana Isolasi Mandiri?

Kamar yang akan digunakan untuk isolasi dipilih yang :

  • terpisah dengan anggota keluarga yang lain
  • dapat ditutup baik pintu maupun jendela yang terbuka ke arah bagian dalam rumah atau ruang lain dalam rumah
  • terdapat pintu atau jendela yang dapat dibuka ke arah luar rumah.

Setiap hari jendela yang terbuka ke luar rumah dibuka setidaknya 2 kali sehari agar terjadi pertukaran udara.
Sedangkan jendela dan pintu yang membuka ke arah dalam rumah sebaiknya senantiasa tertutup.


BACA JUGA:

Tidak perlu panik ketika hasil laboratorium swab PCR menunjukkan hasil positif.

Kepanikan tidak menyelesaikan masalah.

Sebagian besar kasus COVID-19 adalah kasus tanpa gejala atau hanya gejala ringan saja.

dr santi
Penderita COVID-19 dengan gejala ringan harus menjalani isolasi (di fasilitas kesehatan/publik yang disediakan pemerintah atau secara mandiri di rumah atau tempat tertentu) selama minimal 10 hari terhitung sejak gejala muncul ditambah 3 hari bebas gejala.   Tentunya isolasi perlu dipersiapkan agar berjalan dengan baik.
Penderita COVID-19 dengan gejala ringan harus menjalani isolasi (di fasilitas kesehatan/publik yang disediakan pemerintah atau secara mandiri di rumah atau tempat tertentu) selama minimal 10 hari terhitung sejak gejala muncul ditambah 3 hari bebas gejala. Tentunya isolasi perlu dipersiapkan agar berjalan dengan baik.
Tentunya isolasi perlu dipersiapkan agar berjalan dengan baik.

Persiapan yang perlu :

πŸ‘‰ Peralatan untuk mengukur tanda vital.
Tanda vital yang dapat diukur sendiri adalah suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah, saturasi oksigen, dan frekuensi napas.
Jika tidak memungkinkan memiliki seluruh perlengkapan, minimal miliki termometer karena suhu tubuh harus selalu diukur sehari 2 kali, pagi dan malam.
Mengukur denyut nadi dan frekuensi napas dapat dilakukan tanpa bantuan alat khusus.

πŸ‘‰ Masker medis.
Masker kain tidak boleh digunakan oleh penderita COVID-19.
Masker medis harus dikenakan ketika terpaksa ada interaksi dengan orang lain.
Sedapat mungkin hindari masuknya orang lain ke dalam kamar isolasi atau penderita keluar kamar isolasi.
Masker medis juga harus dikenakan oleh orang yang merawat penderita COVID-19.

πŸ‘‰ Sabun dan fasilitas air mengalir atau hand sanitizer.

πŸ‘‰ Bahan makanan dan minuman yang cukup selama masa isolasi.
Jika makanan disiapkan orang lain, maka batasi kontak dengan orang sehat dengan cara meletakkan makanan di depan pintu kamar dan dapat diambil setelah pengantar makanan menjauh.

πŸ‘‰ Peralatan makan (piring, sendok, garpu, gelas, dll) yang terpisah dari orang lain dan dicuci terpisah.
Sebaiknya penderita mencuci sendiri peralatan makannya.

πŸ‘‰ Peralatan tidur (sprei, sarung bantal, sarung guling, dan selimut) yang terpisah dengan orang lain.

πŸ‘‰ Peralatan mandi (gayung, sabun mandi, sampo, sikat gigi, odol, handuk, pisau cukur) yang terpisah dengan orang lain.

πŸ‘‰ Tempat sampah tertutup.

πŸ‘‰ Tempat pakaian kotor.

πŸ‘‰ Persediaan obat-obatan yang rutin digunakan (misalnya obat hipertensi, obat diabetes, dll) minimal untuk 1 bulan.

πŸ‘‰ Persediaan obat-obatan untuk mengatasi gejala misalnya obat demam, obat batuk pilek, obat diare, dll.

πŸ‘‰ Multivitamin yang mengandung berbagai vitamin dan mineral.
Dan juga probiotik.

πŸ‘‰ Obat oles misalnya minyak kayu putih, balsam, dll.

πŸ‘‰ Perlengkapan yang dibutuhkan untuk bekerja atau belajar secara online.

πŸ‘‰ Benda-benda yang dapat membantu mengusir kebosanan misalnya buku, laptop, peralatan melukis, peralatan jahit menjahit, peralatan olahraga, dan sebagainya.

πŸ‘‰ Perlengkapan keagamaan.

Menjalani isolasi berguna untuk menekan angka penularan.

Merupakan tanggung jawab setiap orang untuk mencegah penularan.
Walaupun berat, jika dilakukan dengan baik, isolasi merupakan pengorbanan setiap penderita bagi kesejahteraan orang lain di sekitarnya.

β€’ Sehat itu Mudah β€’
β€’ Sehat itu Murah β€’
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com tries to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Mufid Majnun & White Field Photo. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply