10 Tips Membentuk Kebisaan Anak Cuci Tangan untuk Kebiasaannya Selamanya

Mencuci tangan adalah salah satu dari program 3M yang digadang pemerintah untuk mencegah penularan penyakit COVID-19.
Diharapkan mencuci tangan dapat menjadi kebiasaan dalam masyarakat.

Sayangnya belum semua masyarakat bisa mencuci tangan dengan cara yang benar.
Mencuci tangan dengan cara yang salah akan menurunkan efektivitasnya.
Dan jika cara yang salah ini telah terlanjur menjadi kebiasaan maka akan sangat sulit untuk mengubahnya.

Maka, sebelum membentuk kebiasaan cuci tangan sebaiknya kita bisa mencuci tangan dengan benar.
Ajarkan anak sedini mungkin untuk mencuci tangan dengan benar.
Bisa dulu baru menjadi biasa.

“Belum semua masyarakat bisa mencuci tangan dengan cara yang benar.
Mencuci tangan dengan cara yang salah akan menurunkan efektifitasnya.

Dan jika cara yang salah ini telah terlanjur menjadi kebiasaan maka akan sangat sulit untuk mengubahnya.
Maka, sebelum membentuk kebiasaan cuci tangan sebaiknya kita bisa mencuci tangan dengan benar.

Ajarkan anak sedini mungkin untuk mencuci tangan dengan benar.
Bisa dulu baru menjadi biasa”

DR SANTI
Bilas sabun batang sebelum digunakan. Atau bawalah sabun sendiri dalam wadah kecil. Kuman atau kotoran dapat saja tertinggal pada sabun batang yang telah digunakan oleh orang lain.
Bilas sabun batang sebelum digunakan. Atau bawalah sabun sendiri dalam wadah kecil. Kuman atau kotoran dapat saja tertinggal pada sabun batang yang telah digunakan oleh orang lain.


BACA JUGA


10 kesalahan yang sering dilakukan ketika mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir :

  1. Tidak membasahi tangan sebelum menggunakan sabun.
    Tangan yang kering menyulitkan sabun untuk larut dan berfungsi dengan baik.
    Solusi : Basahi tangan sebelum membubuhkan sabun.
  2. Mencuci tangan dengan air dalam gayung.
    Pada beberapa tempat, air mengalir masih sulit ditemukan. Air berada dalam tempat penampungan seperti bak atau ember.
    Hindari mencuci tangan dalam gayung karena sisa-sisa kotoran, virus, bakteri, dll bisa menempel kembali ke tangan walaupun tangan tampak bersih.
    Solusi : ambil air dengan gayung dan tuang agar menyerupai air mengalir.
  3. Menggosok tangan dengan sabun dalam waktu kurang dari 20 detik.
    Waktu 20 detik ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk menggosok tangan dengan sabun. Bukan dihitung sejak tangan dibasahi sampai menutup keran air.
    Solusi : Nyanyikan lagu atau refrain lagu yang lamanya 20 detik untuk mempermudah, misalnya lagu Happy Birthday selama 2 kali, Lihat Kebunku, dll.
  4. Menggunakan sabun dalam jumlah terlalu sedikit, terlalu encer, atau terlalu banyak.
    Konsistensi sabun menentukan efektifitasnya. Sabun yang terlalu sedikit atau terlalu encer tidak berfungsi dengan baik sedangkan sabun yang terlalu kental akan lebih sulit dibersihkan.
    Pada umumnya ukuran 3 ml sabun cair dianggap cukup.
    Agar mudah membayangkannya, kira-kira setengah sendok teh atau seukuran koin uang 500.
    Untuk menentukan jumlah yang tepat, sebetulnya agak sulit karena jumlah sabun juga tergantung pada ukuran tangan. Semakin besar tangan tentunya membutuhkan semakin banyak sabun.
    Solusi : Usahakan membawa sendiri sabun dalam wadah kecil. Pastikan sabun dapat melumuri seluruh bagian tangan.
  5. Tidak membilas sabun batang sebelum digunakan.
    Kuman atau kotoran dapat saja tertinggal pada sabun batang yang telah digunakan oleh orang lain.
    Solusi : Bilas sabun batang sebelum digunakan. Atau bawalah sabun sendiri dalam wadah kecil.
  6. Tidak menggosok seluruh bagian tangan dengan sabun.
    Bagian yang sering terlewatkan adalah ibu jari, sela jari, dan di bawah kuku.
    Solusi : Pastikan menggosok seluruh bagian tangan selama 20 detik sebelum membilasnya.
  7. Tidak melepas cincin, gelang, atau jam tangan ketika mencuci tangan.
    Kulit di bawah cincin, gelang, atau jam tangan tidak dapat terjangkau sabun sehingga kotoran, baik yang kasat mata seperti minyak, tanah, dll dan kotoran yang tidak kasat mata seperti bakteri, virus, telur cacing, dll tetap tertinggal di kulit.
    Solusi : Tidak memakai cincin, gelang, jam tangan. Atau melepasnya ketika cuci tangan, simpan dalam kantong baju atau tas agar tidak tertinggal. Jangan lupa membersihkan juga cincin, gelang, dan jam tangan secara teratur.
  8. Tidak mengeringkan tangan setelah cuci tangan.
    Kotoran kasat mata (debu, lumpur, tanah, dll) dan kotoran tidak kasat mata (bakteri, virus, telur cacing, dll) lebih mudah terbawa ke tangan ketika tangan berada dalam keadaan basah. Selain itu, air bekas mencuci tangan yang tertinggal berpotensi mengandung berbagai kotoran.
    Tindakan mengeringkan tangan membantu proses pembersihan tangan.
    Solusi : Bawa handuk/saputangan sendiri atau tisu kering. Keringkan seluruh bagian tangan.
  9. Menutup keran air dengan tangan yang sudah bersih.
    Keran adalah bagian yang sering disentuh banyak orang sehingga berpotensi menjadi media penular berbagai penyakit termasuk COVID-19.
    Solusi : Tutup keran dengan tisu bekas mengeringkan tangan. Atau cuci keran dengan sabun dan air sebelum digunakan.
  10. Tidak mencuci handuk tangan atau saputangan dalam jangka waktu yang lama.
    Sebaiknya handuk atau saputangan digunakan secara pribadi dan tidak digunakan bersama dengan orang lain walaupun keluarga sendiri.
    Handuk/saputangan harus dicuci setiap hari atau paling lama 3 hari sekali.
    Solusi : Buat kebiasaan mencuci handuk/saputangan sekaligus dengan pakaian yang dikenakan hari itu agar tidak terlupakan.


Sebelum membentuk kebiasaan mencuci tangan, pastikan dahulu kebisaan cuci tangan telah ada.
Kebiasaan mencuci tangan dengan cara yang salah yang sudah terlanjur terbentuk akan lebih sulit diubah. Maka pastikan untuk bisa sebelum menjadi biasa.

• Sehat itu mudah •
• Sehat itu murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)

Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com tries to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: 剑 林 & Susanne Jutzeler, suju-foto. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply