Tips Melawan Stres Selama Pandemi Covid-19

Pandemi menimbulkan banyak ketidakpastian, kekhawatiran, dan ketakutan.
Segala sesuatu berpotensi menyebabkan stres berkepanjangan mulai dari kekhawatiran akan kesehatan diri dan keluarga, masa resesi ekonomi, masa depan yang sulit dipastikan, perubahan pola kerja, ditambah dengan adanya anjuran diam dalam rumah, menghindari kontak fisik, dan menjaga jarak dapat membuat orang merasa terisolasi dan kesepian.
Hal ini adalah hal yang normal dan manusiawi.

Berbagai hal bisa terjadi selama masa pandemi, hal yang positif seperti meningkatnya kualitas hubungan antar anggota keluarga, meningkatnya kualitas belajar dan bekerja secara daring, meningkatnya kualitas hidup karena tersedianya waktu dan tenaga untuk menjalankan pola hidup sehat.

Di sisi lain, hal yang negatif bisa juga terjadi seperti :
✂️ kekacauan pola tidur
✂️ perubahan pola makan
✂️ penurunan aktivitas fisik harian
✂️ meningkatnya penggunaan alkohol, narkoba, dan rokok
✂️ meningkatnya pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga
✂️ memburuknya kondisi penyakit kronis yang telah diderita.

Kemampuan orang dalam menghadapi stres berbeda-beda.
Kita perlu memperhatikan tanda-tanda stres yang timbul dalam diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.
Segera melakukan intervensi sebelum terlambat.
Jika ada yang merasa stres, segeralah mencari bantuan secepatnya.
Semakin cepat mendapat penanganan, semakin cepat stres dapat ditanggulangi.

Kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kesehatan jiwa atau kesehatan mental.
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.


BACA JUGA:


Kemampuan orang dalam menghadapi stres berbeda-beda.
Kita perlu memperhatikan tanda-tanda stres yang timbul dalam diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.

Segera melakukan intervensi sebelum terlambat.
Jika ada yang merasa stres, segeralah mencari bantuan secepatnya.
Semakin cepat mendapat penanganan, semakin cepat stres dapat ditanggulangi.


Kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kesehatan jiwa atau kesehatan mental.
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

dr Santi
Janganlah berfokus pada kekhawatiran yang berada di luar kontrol kita. Ubah situasi khawatir dengan mengambil tindakan yang dapat dilakukan yang ada dalam kontrol kita.
Janganlah berfokus pada kekhawatiran yang berada di luar kontrol kita. Ubah situasi khawatir dengan mengambil tindakan yang dapat dilakukan yang ada dalam kontrol kita.


Jagalah kesehatan tubuh dengan cara :

👍 Cukupi kebutuhan tidur.
Pembatasan sosial membuat orang banyak berada dalam rumah.
Perubahan ini sering membuat jadwal tidur menjadi kacau. Tidur yang cukup sangat berperan dalam menjaga kesehatan tubuh dan mental.
Cobalah untuk kembali ke jadwal tidur semula dan tetap jalankan dengan tertib. Segera hubungi tenaga kesehatan jika mengalami masalah tidur.

👍 Makan makanan yang bergizi lengkap dan seimbang serta cukupi kebutuhan minum.
Bagi sebagian orang, pola makan selama pandemi menjadi lebih baik, tetapi bagi kelompok yang lain, pola makan bisa menjadi lebih buruk.
Usahakan selalu untuk dapat makan makanan yang sehat.
Makanan yang sehat dapat dibuat menjadi nikmat dan hemat. Belajarlah memilih atau membuat makanan sehat dari berbagai media yang tersedia seperti buku, majalah, internet, dan lainnya.

👍 Aktif bergerak dan rutin olahraga.
Diam dalam rumah seharusnya membuat orang memiliki lebih banyak waktu dan fleksibilitas untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga.
Sayangnya seringkali orang banyak menghabiskan waktu secara sia-sia dengan penggunaan gadget (handphone, laptop, televisi, dll) secara berlebihan.
Cobalah melakukan refleksi, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk berselancar di dunia maya, bermain game, ngobrol ngalor ngidul, mengintip media sosial orang lain, dan seterusnya.
Buat skala prioritas waktu.
Atur agar waktu untuk melakukan hal lainnya tidak habis tersita oleh gadget.

👍 Hindari atau setidaknya batasi kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol, menggunakan narkoba, dll.
Sibukkan diri dan alihkan perhatian agar keinginan untuk melakukan berbagai kebiasaan buruk mereda atau menghilang.
Lakukan aktivitas yang menyenangkan dan disukai, yang merupakan hal yang baik, misalnya bernyanyi, menari, berkebun, mengerjakan pekerjaan tangan lainnya, memasak, menulis, mengarang lagu, bermain musik, olahraga, belajar bahasa baru, dan sebagainya.


Jagalah kesehatan mental dengan cara :

💪 Hindari faktor pemicu stres.
Perhatikan apa saja yang memicu stres, misalnya pemberitaan tentang COVID-19, situasi perekonomian, kriminalitas, dst.

Batasi pemicu stres, misalnya dengan membatasi menonton, membaca, atau mendengar pemberitaan dari berbagai sumber yang tidak jelas.
Carilah informasi dari sumber yang kredibel.

💪 Janganlah berfokus pada kekhawatiran yang berada di luar kontrol kita,
misalnya penemuan vaksin dan obat untuk COVID-19, angka kriminalitas yang meningkat, situasi perekonomian yang buruk, dll.

Ubah situasi khawatir dengan mengambil tindakan yang dapat dilakukan yang ada dalam kontrol kita.
Misalnya jika khawatir tertular COVID-19, daripada membiarkan kekhawatiran membuat diri menjadi stres, lebih baik lakukan berbagai protokol pencegahan dengan benar dan konsisten serta menjaga daya tahan tubuh.
Menjaga diri dan rumah agar aman dari incaran penjahat misalnya dengan tidak memakai perhiasan, tidak menyimpan barang berharga di rumah, mengunci pintu dengan baik, dst akan membuat kejahatan dapat dihindari.
Atau misalnya ketika resah dengan situasi perekonomian, lakukan berbagai penghematan dan berusaha menambah pemasukan dengan berbagai cara misalnya mencari pekerjaan tambahan, mulai melakukan bisnis kecil, dst.

💪 Melihat dengan sudut positif.
Pandemi menyingkirkan kita dari berbagai hal, pekerjaan rutin, kegiatan sosial, hal-hal kecil yang menyenangkan, bisa pergi ke bioskop, arisan, dll.
Tetapi lihatlah dari sisi yang lain. Pandemi membuat kita lebih banyak waktu dalam rumah bersama dengan keluarga.
Buatlah menjadi menyenangkan, lakukan kegiatan bersama seperti bermain, memasak, berkebun, atau sekedar mengobrol.

💪 Janganlah menuntut kesempurnaan baik diri sendiri maupun orang lain.
Turunkan ekspektasi, misalnya selama sekolah online, biarlah anak tidak meraih nilai sempurna. Tidak perlu membuktikan diri sebagai orang tua teladan yang super hebat.
Utamakan kebahagiaan anak dan orang tua.

💪 Buat prioritas.
Misalnya lebih baik tetap dapat bekerja dengan baik dan membiarkan cucian terbengkalai.
Sesekali gunakan jasa laundry atau membeli makanan. ini bukanlah dosa yang besar.
Tidak perlu harus sempurna dalam menjalani hidup.
Kebahagiaan mengalahkan kesempurnaan.

💪 Usahakan menjalankan rutinitas sama seperti kondisi sebelumnya.
Melakukan kegiatan rutin membantu kita menjaga kesehatan mental. Misalnya tetaplah bekerja dengan jam kerja seperti biasa walaupun di rumah.
Jika sementara waktu tidak bekerja (dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja) tetaplah lakukan sesuatu, misalnya berusaha mencari pekerjaan, mencoba pekerjaan baru yang bisa dikerjakan mandiri, misalnya mencoba untuk berkebun, beternak, membuat berbagai hal yang dapat dijual, mencari peluang dengan menghubungi saudara atau teman.

💪 Tetap menjaga relasi sosial dengan kerabat, teman, atau tetangga di sekitar kita.
Jika kita membutuhkan bantuan, baik secara fisik, finansial, maupun mental, cobalah cari bantuan dari berbagai pihak selain kerabat, teman, tetangga, pemerintah setempat, pemuka agama setempat, lembaga-lembaga sosial, dst.

Jika kita kebetulan berkecukupan, ulurkan tangan secara langsung bagi mereka yang kurang beruntung atau melalui berbagai lembaga sosial, lembaga keagamaan.
Membantu orang lain memberikan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang.

💪 Segera mencari bantuan jika merasa stres mengganggu hidup.
Cobalah mencari dukungan moral dari keluarga, sahabat, atau rekan kerja atau hubungi pemuka agama.

Bila perlu hubungi tenaga kesehatan terdekat.

• Sehat itu mudah •
• Sehat itu murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)

Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com is trying to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Ian & Steve Buissinne. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply