Isolasi dan Karantina COVID-19, Kapan Berakhir?

Istilah isolasi mandiri dan karantina mandiri menjadi semakin sering terdengar. Apa maksudnya?
Siapa yang perlu menjalani isolasi atau karantina mandiri?
Kapan orang yang menjalani isolasi atau karantina dapat dinyatakan selesai masa isolasi atau karantinanya?


ISOLASI

Istilah isolasi digunakan untuk memisahkan orang yang sakit yang sudah dikonfirmasi laboratorium atau memiliki gejala COVID-19 dari orang yang tidak terinfeksi.

Selama dalam masa isolasi, orang harus diam dalam ruangan khusus yang terpisah dari orang lain dan jika tersedia, menggunakan kamar mandi (untuk mandi, buang air besar, dan buang air kecil) yang terpisah juga.

Isolasi mandiri maksudnya isolasi yang dilakukan sendiri, di luar fasilitas kesehatan (klinik, rumah sakit, dll).


Orang yang perlu melakukan isolasi mandiri adalah :
  • kasus suspek
  • orang yang terinfeksi virus penyebab COVID-19 tetapi tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali (penderita asimtomatik)
  • orang yang terinfeksi virus penyebab COVID-19 dan menderita gejala sakit yang ringan sampai sedang seperti batuk, demam, dll.

Orang dinyatakan terinfeksi virus penyebab COVID-19 jika didapati positif pada pemeriksaan laboratorium RT-PCR atau yang lebih umum dikenal dengan swab test. Ini dikenal juga sebagai kasus konfirmasi.


Kasus suspek maksudnya adalah :
  • Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.
  • Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus probable/penderita COVID-19.
  • Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
Selama masa isolasi, penderita harus :
  • Senantiasa memantau gejala sakit yang diderita misalnya dengan mengukur suhu tubuh dan memperhatikan derajat keparahan gejala.
  • Segera hubungi unit gawat darurat jika terjadi :
    • kesulitan bernafas,
    • nyeri dada atau merasa tekanan pada dada,
    • kebingungan,
    • tidak mampu bangun, tidak bisa terjaga,
    • bibir atau wajah kebiruan.
  • Diam dalam ruangan yang terpisah dari orang lain.
  • Menggunakan kamar mandi yang terpisah jika memungkinkan.
    Jika tidak, usahakan menggunakan kamar mandi setelah semua orang selesai menggunakannya dan segera membersihkan kamar mandi dengan cairan desinfektan.
  • Hindari kontak dengan orang lain dan binatang peliharaan.
  • Menggunakan alat makan (piring, gelas, mangkok, sendok, garpu, dll) dan alat mandi (sikat gigi, handuk, dll) yang terpisah dengan orang lain.
  • Hindari menerima kunjungan tamu.
  • Kenakan masker apabila terpaksa harus bertemu dengan orang lain dan usahakan menjaga jarak minimal 1 meter.


Menurut Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 REV 5 yang dapat ditemukan di laman resmi covid19.kemenkes.go.id, orang dinyatakan selesai menjalani isolasi mandiri :

  1. Tanpa perlu pemeriksaan follow up RT-PCR jika :
    1. penderita COVID-19 tanpa gejala telah menjalani 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi (swab test)
    2. kasus probable/penderita COVID-19 dengan gejala telah menjalani 10 hari sejak tanggal onset atau muncul gejala, ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala sakit seperti demam dan gangguan pernapasan.
  2. Pada kasus probable/penderita COVID-19 dengan gejala yang mendapatkan pemeriksaan follow up RT-PCR dengan hasil 1 kali negatif ditambah dengan minimal 3 hari setelah tidak menunjukkan gejala sakit seperti demam dan gangguan pernapasan.
  3. Pada kasus suspek, isolasi dapat dinyatakan selesai :
    1. setelah 14 hari sejak tanggal dinyatakan sebagai suspek
    2. sebelum 14 hari jika ditemukan pemeriksaan RT-PCR 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu >24 jam.

Kasus probable maksudnya adalah kasus diduga menderita COVID-19 dengan ISPA berat, sindrom gagal napas akut, atau meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 dan belum ada hasil pemeriksaan RT-PCR.

Jika penderita COVID-19 mengalami sakit yang parah atau sedang dalam pengobatan untuk menekan imun tubuh, atau penderita penurunan daya tahan tubuh maka isolasi perlu dilakukan lebih lama 10 sampai 20 hari sesudah gejala COVID-19 pertama kali muncul. Pemeriksaan laboratorium RT-PCR mungkin perlu dilakukan untuk memutuskan kapan isolasi berakhir.


Masing-masing orang adalah bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Jika kita harus menjalani isolasi atau karantina mandiri, jalanilah dengan disiplin.

Apa yang kita lakukan atau tidak kita lakukan membawa dampak bagi orang lain yang bisa saja pada akhirnya akan berdampak bagi keluarga kita sendiri
.

dr SAnti


BACA JUGA:

Karantina bertujuan memutus rantai penyebaran COVID-19 yang mungkin dapat terjadi sebelum orang mengetahui bahwa dirinya menderita COVID-19 dengan gejala atau tanpa gejala.
Karantina bertujuan memutus rantai penyebaran COVID-19 yang mungkin dapat terjadi sebelum orang mengetahui bahwa dirinya menderita COVID-19 dengan gejala atau tanpa gejala.


KARANTINA

Karantina adalah istilah yang digunakan ketika orang yang mungkin terpapar COVID-19 memisahkan diri dari orang lain.

Pada kasus karantina, orang belum merasa sakit dan belum menjalani pemeriksaan laboratorium tetapi memiliki riwayat kontak dengan penderita COVID-19 atau riwayat bepergian ke wilayah yang sudah terjadi transmisi lokal.

Karantina bertujuan memutus rantai penyebaran COVID-19 yang mungkin dapat terjadi sebelum orang mengetahui bahwa dirinya menderita COVID-19 dengan gejala atau tanpa gejala.

Karantina mandiri adalah karantina yang dilakukan sendiri oleh orang yang bersangkutan.

Yang perlu dilakukan orang dalam masa karantina sama persis seperti orang dalam masa isolasi.
Apabila dalam masa karantina orang mengalami gejala sakit, hubungi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.


Orang yang harus melakukan karantina adalah orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan :
  • kasus probable yaitu : suspek dengan ISPA yang berat atau ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) alias gagal napas akut yang meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 DAN belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR
  • penderita COVID-19 yang telah dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR baik yang bergejala maupun yang tidak bergejala.

Apa Arti nya Kontak Erat?

Riwayat kontak erat yang dimaksud adalah melakukan hal-hal di bawah ini dengan penderita Covid-19 maupun kasus probable :

  • Kontak tatap muka/berdekatan dalam radius 1 meter dan selama 15 menit atau lebih.
  • Sentuhan fisik langsung (misalnya bersalaman, berpegangan tangan, dll).
  • Berbagi alat makan atau makan bersama.
  • Orang yang memberikan perawatan langsung tanpa menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai standar.
  • Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.


Pencarian kontak erat dilakukan :

  • pada kasus probable atau penderita COVID-19 dengan gejala : sejak 2 hari sebelum timbul gejala hingga 14 hari sesudah timbul gejala
  • pada penderita yang tidak bergejala : sejak 2 hari sebelum tanggal pemeriksaan tes swab hingga 14 hari sesudah pemeriksaan.

Khusus untuk orang yang memiliki kontak erat dengan penderita COVID-19 tetapi orang tersebut telah menderita COVID-19 dalam waktu 3 bulan sebelumnya, telah dinyatakan sembuh, dan tetap bebas gejala, maka tidak perlu melakukan karantina.

Karantina mandiri dinyatakan selesai setelah 14 hari terhitung tanggal
terakhir kontak dengan kasus probable atau penderita COVID-19.


Perlukah Menjalani Isolasi atau Karantina Mandiri?

Masing-masing orang adalah bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Jika kita harus menjalani isolasi atau karantina mandiri, jalanilah dengan disiplin.

Apa yang kita lakukan atau tidak kita lakukan membawa dampak bagi orang lain yang bisa saja pada akhirnya akan berdampak bagi keluarga kita sendiri.
Misalnya ketika seharusnya kita menjalani isolasi mandiri, kita tidak disiplin, tetap pergi, dan melakukan kontak dengan orang lain.
Akibatnya ada orang lain yang tertular.

Orang bisa saja tidak pusing karena berpikir, biarin aja, yang ketularan kan orang lain, bukan urusan gua, kenal juga kaga.
Padahal bisa saja orang yang tertular tersebut, ternyata pedagang, petugas keamanan, pekerja, atau apapun, kemudian melakukan kontak dengan keluarga kita.
Mereka tertular dan sakit, bahkan mungkin meninggal.
Bukankah kita sendiri yang akan rugi?

Mari peduli dan disiplin!

• Sehat itu mudah •
• Sehat itu murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com is trying to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Enrique Lopezgarre & Fernando Zhiminaicela. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply