Tips Hindari Sakit karena Cuaca Buruk dan Tertular Covid-19

Hujan mulai datang silih berganti dengan panas yang terik.
Iklim dunia mulai menjadi kacau. Akibatnya musim hujan datang tidak menentu.
Polusi menambah beratnya persoalan.

Banyak penyakit timbul karena cuaca yang buruk seperti penyakit saluran pernafasan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit, penyakit-penyakit yang disebarkan melalui binatang seperti gigitan nyamuk, kotoran hewan pengerat, penyakit persendian, gangguan suasana hati, dan kecelakaan akibat jalan yang licin.

Jika kita sakit, kekebalan tubuh menurun, sehingga kita menjadi lebih rentan tertular COVID-19.
Orang berusia lanjut, orang dengan umur berapapun yang menderita penyakit penyerta (diabetes, penyakit jantung, hipertensi, gangguan paru, penderita kanker, gangguan imunitas, dll), perokok, dan penderita obesitas adalah orang yang perlu sangat hati-hati agar tidak tertular COVID-19.
Karena jika tertular, mereka akan mengalami sakit yang parah dan kemungkinan meninggal lebih tinggi.
Butuh perhatian ekstra untuk menghalau semua penyakit ini.


Agar terhindar dari penyakit yang menyerang saluran pernapasan, termasuk COVID-19 :

  • memakai masker bila keluar rumah atau berinteraksi dengan orang yang tidak tinggal serumah
  • menjaga jarak 1 sampai 2 meter dengan orang yang tidak serumah
  • menghindari kerumunan
  • menghindari area yang penuh dengan orang dan buruk sirkulasi udaranya
  • mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  • jangan menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci
  • menerapkan etika batuk dan bersin
  • menghindari orang sakit
  • menjaga kebersihan benda-benda yang sering disentuh
  • mengatur sirkulasi udara dalam rumah dengan membuka jendela dan pintu setiap pagi, bila banyak nyamuk atau lalat, pasang kawat kasa di pintu dan jendela
  • selalu makan makanan yang matang sepenuhnya
  • dapatkan vaksinasi influenza dan vaksinasi pneumonia
  • obati penyakit penyerta
  • turunkan berat badan jika berlebihan atau kegemukan
  • berhenti merokok dan hindari paparan asap rokok
  • hindari berada di tempat yang penuh dengan polusi
  • jagalah imunitas tubuh.


Agar terhindar dari penyakit saluran pencernaan di cuaca buruk :

  • Cuci buah dan sayur dengan air yang mengalir.
  • Gunakan pisau dan talenan yang berbeda pada makanan yang mentah dan perlu dimasak (misalnya ayam, daging, ikan, sayur, dll) dan pada makanan yang matang atau langsung dapat dimakan (misalnya roti, kue, buah, dll)
  • Pastikan kebersihan makanan, minuman, dan alat makan yang digunakan.
  • Hindari/batasi jajan di tempat sembarangan.
    Jika terpaksa harus jajan, pilih makanan yang baru dimasak ketika kita memesan atau pilih makanan yang disajikan dalam keadaan panas.
  • Bawa alat makan (tempat makan, sendok, botol minum) dari rumah.
  • Hindari makanan mentah atau setengah matang.
  • Hindari makanan yang terlalu asam, terlalu pedas, dan terlalu berminyak.
  • Makanlah makanan yang mengandung prebiotika dan probiotika.
  • Perbanyak makan buah dan sayur.
  • Tutup makanan agar terhindar dari lalat, kecoa, atau debu.
  • Hindari memanaskan makanan berkali-kali.


Agar terhindar dari penyakit kulit :

  • Segera bersihkan tubuh dengan sabun dan air jika terkena air hujan atau genangan air.
  • Keringkan tubuh, termasuk di area lipatan seperti lipat siku, ketiak, bawah payudara, lipat paha, sela jari, dll.
  • Hindari pemakaian bersama dengan orang lain handuk, pakaian, kaos kaki, dll.
  • Tutup luka terbuka yang ada dengan penutup luka tahan air.
  • Usahakan agar seluruh tubuh tetap kering dan hangat dengan :
    • siapkan payung atau jas hujan ketika bepergian
    • sediakan 1 set pakaian ganti berikut alas kaki, kaos kaki, dan handuk di tempat kerja atau di dalam kendaraan pribadi
    • kenakan pakaian yang cukup tebal, jaket, syal, dan kaos kaki
    • mengenakan alas kaki yang tertutup dan memakai kaos kaki
    • kenakan selimut dan kaos kaki ketika tidur.

BACA JUGA :
Jika kekebalan tubuh menurun, kita menjadi lebih rentan tertular COVID-19.
Cuaca yang buruk bisa menyulitkan kita dalam menjaga imunitas tubuh. Apalagi bagi orang yang tetap harus bekerja di luar rumah. Jika kekebalan tubuh menurun, kita menjadi lebih rentan tertular COVID-19.


Cuaca yang buruk bisa menyulitkan kita dalam menjaga imunitas tubuh.
Apalagi bagi orang yang tetap harus bekerja di luar rumah.

Cara tetap menjaga imunitas tubuh dalam cuaca yang buruk :

  • Siapkan persediaan obat-obat yang biasa digunakan seperti obat asma, hipertensi, diabetes, dsb
  • Menjaga asupan gizi dan cairan yang memadai.
  • Kurangi asupan gula, garam, dan alkohol.
  • Buang sampah pada tempatnya terutama yang dapat menimbulkan genangan air seperti gelas plastik, botol, dll agar mencegah berkembangbiaknya nyamuk.
  • Jaga kebersihan dan kerapian rumah.
    Baju kotor yang berserakan atau baju yang digantung dapat menjadi tempat hinggapnya nyamuk.
  • Mengenakan alas kaki tanpa hak yang nyaman dan memiliki sol yang anti slip.
    • Penggunaan alas kaki yang tepat dapat mencegah kita terpeleset di jalanan yang basah dan licin.
    • Alas kaki tertutup juga dianjurkan pada pejalan kaki, pengendara sepeda, atau sepeda motor
  • Tetap olahraga dan aktif bergerak.
    • Hujan seringkali menjadi alasan untuk tidak berolahraga. Lakukan olahraga dalam ruangan seperti senam, yoga, dll.
    • Olahraga cukup dilakukan 30 sampai 50 menit dengan intensitas sedang, seminggu 3 sampai 5 kali.
    • Olahraga yang berlebihan juga tidak baik bagi mekanisme pertahanan tubuh dan membuat tubuh rentan terserang infeksi.
  • Cukup tidur.
    • Cukup tidur meningkatkan daya tahan tubuh sehingga mampu membuat perlawanan terhadap virus dan kuman.
    • Jika sakit, orang yang cukup tidur akan lebih cepat pulih daripada orang yang kurang tidur.
  • Kelola stres dengan bijak.
    Hormon stres seperti kortisol dapat menurunkan efektivitas imunitas tubuh.
  • Berhenti merokok dan vaping.
    Nikotin yang ada dalam rokok dan vape meningkatkan hormon kortisol.
  • Vaksinasi.
    Sebaiknya menghubungi dokter untuk mendapatkan vaksinasi terhadap beberapa penyakit seperti influenza, pneumonia, demam tifoid, kolera, hepatitis A, dan sebagainya.
• Sehat itu mudah •
• Sehat itu murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com tries to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Pexels, Hari Otnamus. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply