Kenapa ya Dok, Covid-19 Takut Sama Orang Gila?

Ada anggapan bahwa orang dengan gangguan jiwa atau yang lebih dikenal sebagai orang gila tidak akan sakit COVID-19.
Anggapan ini konon kabarnya didasari karena kehidupan orang gila yang keras dan susah sehingga imun tubuhnya sudah terlatih dan bisa menangkal virus penyebab COVID-19.
Benarkah?
Faktanya, telah ditemukan beberapa kasus konfirmasi positif COVID-19 pada orang dengan gangguan jiwa.


Terjadinya sebuah penyakit dipengaruhi oleh 3 hal :

  1. Host (inang).
    Inang bukan hanya manusia, tapi juga hewan atau tumbuhan karena berbagai penyakit bisa menyerang manusia, hewan, atau tumbuhan.
    Jika inang menjaga imunitas tubuh dengan baik, menghindari paparan terhadap patogen, telah mendapatkan vaksinasi misalnya, maka penyakit tidak terjadi.
    Inang yang sakit tidak selalu menunjukkan gejala-gejala sakit (misalnya orang yang menderita COVID-19 tanpa merasakan keluhan apapun sampai sembuh).
  2. Agent (patogen).
    Patogen bisa berupa virus, bakteri, jamur, parasit, dan lainnya.
    Penyakit bisa terjadi jika patogen masuk ke dalam inang, jumlah patogen yang masuk sangat banyak atau sangat ganas.
  3. Environment (lingkungan).
    Lingkungan mempengaruhi melalui berbagai faktor seperti temperatur lingkungan, kelembaban, sirkulasi udara, dan sebagainya.


BACA JUGA:

Pada orang gila, bisa jadi paparan terhadap virus penyebab COVID-19 sangat minimal. Orang gila ‘selalu berhasil menjaga jarak dengan orang lain’.
Pada orang gila, bisa jadi paparan terhadap virus penyebab COVID-19 sangat minimal. Orang gila ‘selalu berhasil menjaga jarak dengan orang lain’.


Beberapa kemungkinan yang terjadi pada orang gila terkait dengan COVID-19 :

Pada orang gila, bisa jadi paparan terhadap virus penyebab COVID-19 sangat minimal.
Mengapa demikian?
Secara mudah dapat dikatakan bahwa orang gila ‘selalu berhasil menjaga jarak dengan orang lain’.
Hampir tidak ada orang yang berani dan sengaja mendekat dengan orang gila.
Sebaliknya, nyaris semua orang akan pergi jika didekati, bahkan akan lari jika dikejar oleh orang gila.

Orang gila yang menggelandang, hampir selalu berada dalam ruang terbuka, yang tentu sirkulasi udaranya baik.
Akibatnya kepekatan virus akan mengencer dalam udara bebas dan kemampuannya menginfeksi akan turun.

Data mengenai jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 terbatas, mungkin karena orang gila jarang yang pergi ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan diri dan menjalani tes swab PCR untuk menegakkan diagnosis COVID-19.
Perlu diingat bahwa untuk melakukan tes swab PCR sangat diperlukan kerjasama dengan pasien untuk tetap diam ketika lidi berkapas dimasukkan ke dalam rongga hidung dan rongga mulut.

Sekitar 80% penderita COVID-19 hanya mengalami gejala ringan sampai sedang.
Sebagian bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali walaupun sedang menderita COVID-19. Maka ada kemungkinan bahwa orang gila yang menderita COVID-19 tidak terlihat sakit.

Imunitas pada orang gila bisa saja baik, tetapi bisa juga buruk.
Imunitas tubuh tergantung pada beberapa hal :
• pola makan
• aktivitas fisik dan olahraga
• pola tidur
• tata kelola stres
• kebiasaan buruk seperti merokok, kurangnya kebersihan diri, misalnya.

Kombinasi faktor tersebut mempengaruhi tingkat imunitas.
Jika orang gila tertawa-tawa selalu, bisa jadi imunitas tubuhnya akan lebih baik dari orang gila yang menangis terus.
Orang gila yang berjalan keluyuran seharian akan lebih baik daripada orang gila yang tidur seharian.

• Sehat itu mudah •
• Sehat itu murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com is trying to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Harish Singh & Wolfgang van de Rydt. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply