10 Cara yang Salah Dalam Penggunaan Hand Sanitizer

Mencuci tangan merupakan tindakan sederhana yang mudah dilakukan dan sepenuhnya di bawah kontrol kita.

Sejak COVID-19 mewabah di mana-mana, seruan cuci tangan semakin gencar dilakukan. Jumlah orang yang mulai membiasakan diri untuk cuci tangan meningkat drastis.

Sayangnya cuci tangan dengan sabun dan air mengalir tidak selalu memungkinkan untuk dilakukan.
Alternatif cuci tangan jatuh pada penggunaan hand sanitizer.

Hand sanitizer tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi sabun dan air mengalir.
Hand sanitizer hanya dapat digunakan jika tangan secara kasat mata terlihat bersih.
Jika tangan terlihat kotor dan berminyak, gunakan sabun dan air mengalir.

Hand sanitizer juga tidak efektif untuk membasmi beberapa jenis kuman dan virus misalnya Cryptosporidium, norovirus, Clostridium difficile.
Jadi segera setelah memungkinkan, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Penggunaan hand sanitizer dengan cara yang salah dapat menurunkan kemampuannya dalam membasmi bakteri, virus, dan kotoran lainnya.

BACA JUGA
Hand sanitizer tidak efektif untuk membersihkan kotoran yang kasat mata (tanah, lumpur, debu, dll), minyak, pestisida, logam berat, dll. Jika tangan terlihat kotor, gunakan sabun dan air mengalir.
Hand sanitizer tidak efektif untuk membersihkan kotoran yang kasat mata (tanah, lumpur, debu, dll), minyak, pestisida, logam berat, dll. Jika tangan terlihat kotor, gunakan sabun dan air mengalir.


10 cara yang salah dalam penggunaan hand sanitizer

  1. Hanya digunakan untuk menggosok telapak tangan.
    Hand sanitizer harus digunakan pada seluruh tangan meliputi telapak tangan, punggung tangan, sela jari, ujung jari, ibu jari, dan pergelangan tangan.
  2. Jumlah hand sanitizer tidak memadai.
    Pada umumnya gunakan hand sanitizer sesuai dengan anjuran pemakaian yang tertera pada botolnya.
    Ukuran yang biasa dianggap cukup adalah 3 ml atau kira-kira setengah sendok teh atau kira-kira seukuran uang logam 500 rupiah. Tentunya jumlah ini disesuaikan dengan ukuran tangan.
    Agar mudah, jumlahnya dianggap cukup apabila cairan telah dapat digunakan untuk menggosok seluruh bagian tangan selama minimal 20 detik.
  3. Tidak mengandung alkohol minimal 60% atau tidak mengandung alkohol.
    Takaran alkohol yang dianggap efektif untuk membasmi virus penyebab COVID-19 adalah minimal 60%.
    Beberapa hand sanitizer tidak mengandung alkohol sama sekali.
    Bacalah kandungan alkohol dengan cermat pada kemasannya.
    Tisu basah bayi pada umumnya tidak mengandung alkohol.
  4. Kurang lama menggosok-gosok tangan.
    Mencuci tangan dengan hand sanitizer pada dasarnya serupa dengan sabun dan air mengalir.
    Dibutuhkan tindakan menggosok-gosok seluruh bagian tangan minimal 20 detik. Jika kurang dari itu, virus penyebab COVID-19 belum sepenuhnya inaktif.
    Agar mudah, nyanyikan lagu atau sepotong lagu (misalnya refrain dari lagu) yang lamanya 20 detik. Contohnya Lihat Kebunku atau 2 kali Happy Birthday.
  5. Tidak melepas cincin, gelang, atau jam tangan.
    Sama seperti mencuci tangan dengan sabun dan air, kulit di bawah perhiasan (cincin, gelang, jam tangan) juga harus turut digosok-gosok.
    Maka simpan perhiasan di tempat yang aman (tas atau kantong) sebelum menggunakan hand sanitizer. Jangan lupa membersihkan juga perhiasan tersebut dan juga botol hand sanitizer.
  6. Hand sanitizer sudah kadaluarsa.
    Perhatikan tanggal kadaluarsa dalam kemasan.
    Biasanya hand sanitizer mencapai kadaluarsa setelah 2 sampai 3 tahun setelah diproduksi.
    Hand sanitizer yang kadaluarsa tidak berbahaya jika digunakan, hanya saja efektivitasnya menurun.
  7. Tidak menyimpan hand sanitizer dengan baik.
    Alkohol yang ada dalam hand sanitizer dapat menguap dan turun kadarnya jika terpapar cahaya matahari, panas, dan udara.
    Maka simpanlah dalam tempat yang sejuk, jauh dari paparan cahaya matahari, dan tutuplah dengan rapat setelah digunakan.
    Hindari membuka botol lama-lama.
  8. Digunakan pada tangan yang terlihat kotor, berminyak, dan basah.
    Hand sanitizer tidak efektif untuk membersihkan kotoran yang kasat mata (tanah, lumpur, debu, dll), minyak, pestisida, logam berat, dll.
    Jika tangan terlihat kotor, gunakan sabun dan air mengalir.
    Tangan yang basah sebaiknya dikeringkan dahulu sebelum penggunaan hand sanitizer. Air atau keringat yang ada di tangan akan ‘mengencerkan’ kadar alkohol sehingga berpotensi menurunkan efektivitasnya.
  9. Meniup-niup hand sanitizer agar cepat kering.
    Alkohol dalam hand sanitizer membutuhkan waktu untuk bekerja.
    Tetap menggosok-gosok seluruh bagian tangan sampai seluruh cairan kering, minimal selama 20 detik.
    Tindakan meniup-niup tangan juga berpotensi memindahkan bakteri atau virus dari mulut ke tangan.
  10. Mengeringkan hand sanitizer dengan tisu, kain, atau saputangan.
    Jangan mengelap cairan hand sanitizer yang tersisa di tangan.
    Tetap gosok-gosok tangan sampai kering. Jika cairan tetap ada sesudah 30 detik, artinya jumlah yang digunakan terlalu banyak, kurangilah jumlahnya pada pemakaian berikutnya.

Hal-hal kecil sering terlewatkan dan dianggap sepele.
Dalam hal mencuci tangan, hal-hal yang dianggap sepele bisa membuat perbedaan besar.

Merasa tangan sudah bersih dapat menyebabkan rasa aman yang semu.
Tangan yang terlihat dan terasa bersih belum tentu bersih sepenuhnya.

Mari lakukan 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker) dengan cara yang benar dan konsisten.

• Sehat itu Mudah •
• Sehat itu Murah •
(dr. Santi, kenapa ya dok?, kenapayadok.com)










Informasi dalam artikel ini akurat pada waktu penerbitan. Namun, karena situasi seputar COVID-19 terus berkembang, ada kemungkinan beberapa data telah berubah sejak dipublikasikan. Walaupun KenapaYaDok.com selalu menjaga agar informasi kami tetap sesuai dengan perkembangan, kami mendorong pembaca untuk tetap mendapat informasi tentang berita dan rekomendasi dengan menggunakan CDC, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai sumbernya.
MATERI DALAM SITUS INI DIMAKSUDKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI INFORMASI UMUM, DAN BUKAN DITUJUKAN SEBAGAI DIAGNOSA, ATAU PERAWATAN YANG DIREKOMENDASIKAN.
Harap dicatat bahwa informasi medis di situs ini dirancang untuk mendukung, bukan untuk menggantikan hubungan antara pasien dan dokter, dan saran medis yang mungkin mereka berikan.

The information in this story is accurate as of press time. However, as the situation surrounding COVID-19 continues to evolve, it’s possible that some data have changed since publication. While KenapaYaDok.com tries to keep our stories as up-to-date as possible, we also encourage readers to stay informed on news and recommendations for their own communities by using the CDC, WHO, and their local public health department as resources.
THE MATERIAL IN THIS SITE IS INTENDED TO BE OF GENERAL INFORMATIONAL USE AND IS NOT INTENDED TO CONSTITUTE MEDICAL ADVICE, PROBABLE DIAGNOSIS, OR RECOMMENDED TREATMENTS.
Please note that medical information found on this website is designed to support, not to replace the relationship between patient and physician/doctor and the medical advice they may provide.

(Credit: Engin Akyurt & 剑 林. Pictures are used for representational purpose only)

Leave a Reply